MAKALAH
Tugas Teori
Ekonomi
Permintaan dan Penawaran Uang
Pengampu : Diana
Aqmala, S.E,.M.M

Disusun Oleh :
M.WILDAN
JAMALUDIN (T01.15.0011)
M.ABDUL GHOFUR (T01.15.0005)
FAISAL ARIS (T01.15.00 )
AGUSTINA INA NOSE (T01.15.00 )
SEKOLAH TINGGI
ILMU EKONOMI
TOTALWIN SEMARANG
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat
Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah ini dapat tersusun
hingga selesai .Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas
bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik
materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Semarang, 27 Mei 2016
Penyusun
Kelompok
1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................... I
DAFTAR ISI .............................................................................................. II
BAB I : PENDAHULUAN .............................................................. 1
A. LATAR BELAKANG ................................................. 1
B. RUMUSAN MASALAH
............................................. 2
BAB II : PEMBAHASAN ................................................................. 3
A.
PERMINTAAN DAN
PEAWARAN UANG ........... 3
a.
Permintaan Uang
.................................................... 3
b.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi ...................... 4
c.
Kurva
permintaan uang ......................................... 5
d.
Penawaran uang ..................................................... 7
e.
Kurva penawaran
uang ......................................... 8
f.
Factor-faktor
yang mempengaruhi ....................... 9
BAB III : PENUTUP ........................................................................... 11
A. KESIMPULAN ............................................................ 11
B. SARAN .......................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 13
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Uang yang kita kenal sekarang ini telah mengalami proses
perkembangan yang panjang. Pada mulanya, masyarakat belum mengenal pertukaran
karena setiap orang berusaha memenuhi kebutuhannnya dengan usaha sendiri.
Manusia berburu jika ia lapar, membuat pakaian sendiri dari bahan-bahan yang
sederhana, mencari buah-buahan untuk konsumsi sendiri; singkatnya, apa yang
diperolehnya itulah yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhannya. Perkembangan
selanjutnya mengahadapkan manusia pada kenyataan bahwa apa yang diproduksi
sendiri ternyata tidak cukup untuk memenuhui seluruh kebutuhannya. Untuk
memperoleh barang-barang yang tidak dapat dihasilkan sendiri, mereka mencari
orang yang mau menukarkan barang yang dimiliki dengan barang lain yang
dibutuhkan olehnya. Akibatnya muncullah sistem'barter'yaitu barang yang
ditukar dengan barang.
Namun pada akhirnya, banyak kesulitan-kesulitan yang
dirasakan dengan sistem ini. Di antaranya adalah kesulitan untuk menemukan
orang yang mempunyai barang yang diinginkan dan juga mau menukarkan barang yang
dimilikinya serta kesulitan untuk memperoleh barang yang dapat dipertukarkan
satu sama lainnya dengan nilai pertukaran yang seimbang atau hampir sama
nilainya. Untuk mengatasinya, mulailah timbul pikiran-pikiran untuk menggunakan
benda-benda tertentu untuk digunakan sebagai alat tukar. Benda-benda yang ditetapkan
sebagai alat pertukaran itu adalah benda-benda yang diterima oleh umum
(generally accepted) benda-benda yang dipilih bernilai tinggi (sukar diperoleh
atau memiliki nilai magis dan mistik), atau benda-benda yang merupakan
kebutuhan primer sehari-hari; misalnya garam yang oleh orang Romawi digunakan
sebagai alat tukar maupun sebagai alat pembayaran upah. Pengaruh orang Romawi
tersebut masih terlihat sampai sekarang; orang Inggris menyebut upah sebagai Salary
yang berasal dari bahasa Latin salarium yang berarti garam.
Meskipun alat tukar sudah ada, kesulitan dalam pertukaran
tetap ada. Kesulitan-kesulitan itu antara lain karena benda-benda yang
dijadikan alat tukar belum mempunyai pecahan sehingga penentuan nilai
uang, penyimpanan
storage
dan pengangkutan transportation menjadi sulit dilakukan serta timbul pula
kesulitan akibat kurangnya daya tahan benda-benda tersebut sehingga mudah
hancur atau tidak tahan lama.
B.
RUMUSAN MASALAH
a. Apa pengertian Permintaan Uang?
b. Apa Faktor-faktor yang mempengaruhi
permintaan uang?
c. Bagaimana
Kurva Permintaan Uang Menurut Motif Transaksi?
d. Apa pengertian Penawaran uang?
e. Apa factor-faktor yang mempengaruhi penawaran
uang?
f. Bagaimana kurva penawaran uang?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Permintaan
dan Penawaran Uang
1. Permintaan
Uang
Permintaan uang merupakan sejumlah
uang yang diminta atau yang diinginkan oleh masyarakat untuk tujuan
transaksi, tujuan berjaga-jaga, dan tujuan spekulasi. Permintaan uang
dipengaruhi oleh tiga motif seperti yang dikemukakan oleh J.M. Keynes, yaitu motif
transaksi, berjaga-jaga, dan spekulasi.
a.
Motif Untuk Bertransaksi
Setiap orang mempunyai berbagai macam
kebutuhan. Untuk memenuhi kebutuhannya seseorang membutuhkan uang. Alasan
sesorang memegang uang adalah karena uang dapat digunakan untuk melakukan
segala bentuk transaksi guna memenuhi kebutuhannya. Misalnya, setiap akan
berangkat ke sekolah, pasti kalian meminta uang saku pada orang tua kalian.
Uang tersebut kalian gunakan untuk membayar transportasi, membeli jajanan, dan
kebutuhan lainnya.
b.
Keinginan untuk
Berjaga-jaga
Dalam kenyataan, tidak semua uang akan
digunakan untuk tujuan transaksi. Tentu ada sebagian uang yang ditahan dalam
bentuk uang kas dengan tujuan tidak untuk dibelikan barang pada saat itu,
tetapi untuk berjaga-jaga. Kondisi masa depan yang tidak terduga mendorong
orang untuk menyimpan uang kas berdasarkan motif berjaga-jaga. Memegang uang
untuk berjaga-jaga juga dapat digunakan untuk kesejahteraan diri atau keluarga
yang lebih baik. Misalnya, kalian menabung di bank dengan tujuan untuk biaya
melanjutkan sekolah di masa depan.
Motif ini juga dipengaruhi oleh tinggi
rendahnya pendapatan seseorang. Semakin tinggi pendapatan seseorang, maka
kemampuan menyimpan uang kas untuk berjaga-jaga semakin tinggi. Hal tersebut
akan membawa kebutuhan yang semakin tinggi akan perlunya uang untuk
berjaga-jaga. Secara keseluruhan, semakin tinggi pendapatan, maka kebutuhan
masyarakat terhadap uang untuk berjaga-jaga juga semakin tinggi.
c. Keinginan
untuk Berspekulasi
Uang dapat digunakan sebagai alat untuk mendapatkan
keuntungan. Motivasi menyimpan uang untuk memperoleh keuntungan disebut motif
spekulasi. Motif spekulatif diwujudkan dalam pembelian surat-surat berharga,
seperti saham dan obligasi (surat utang). Motif ini dipengaruhi oleh tingkat
bunga.
Pendapatan dari memegang obligasi adalah
pendapatan bunga dan dari selisih harga penjualan obligasi. Pada tingkat bunga
yang terlalu tinggi, permintaan uang kas menjadi rendah. Bila tingkat bunga
yang berlaku dianggap terlalu rendah, masyarakat menganggap lebih menguntungkan
jika memegang uang kas, sehingga keinginan untuk berspekulasi turun.
2.
Faktor-Faktor yang
Memengaruhi Permintaan Uang
Dua
faktor utama yang memengaruhi permintaan uang adalah pendapatan dan tingkat
bunga. Selain itu, permintaan uang dipengaruhi oleh:
a.
Selera Masyarakat
Selera
masyarakat akan memengaruhi permintaan uang. Misalnya, peningkatan selera
masyarakat terhadap barang-barang impor yang mahal akan meningkatkan permintaan
terhadap uang kas untuk tujuan transaksi.
b.
Kekayaan dari Masyarakat
Apabila
suatu masyarakat semakin kaya, maka permintaan terhadap uang cenderung
meningkat. Namun, tidak selalu bahwa kenaikan kekayaan yang cukup besar akan
secara otomatis meningkatkan permintaan uang kas. Mungkin, ada sebagian yang
diwujudkan dalam bentuk tabungan atau surat berharga jangka pendek.
c.
Tersedianya Fasilitas
Kredit
Dengan
makin banyak serta mudahnya fasilitas kredit seperti kartu kredit dan
pembayaran angsuran maka permintaan uang kas semakin kecil.
d.
Kepastian tentang
Pendapatan yang Diharapkan
Apabila
masyarakat memiliki kepastian tentang pendapatan yang diharapkan di masa
mendatang maka permintaan uang cenderung turun. Sebaliknya, apabila masyarakat
tidak yakin bahwa pendapatan yang diharapkan kemungkinan tidak menjadi
kenyataan maka permintaan uang kas cenderung naik.
e.
Harapan tentang Harga
Apabila
masyarakat menganggap bahwa di kemudian hari harga-harga barang dan jasa akan
turun mereka akan cenderung menahan uang kas dan menunda pembelian barang.
Sebaliknya, apabila diperkirakan harga akan naik, permintaan uang oleh
masyarakat cenderung turun.
f.
Sistem/Cara Pembayaran
yang Berlaku
Cara
pembayaran ini berhubungan erat dengan sistem atau proses produksi barang.
Apabila proses produksi mulai dari bahan mentah sampai barang jadi dan
distribusinya dilakukan oleh beberapa perusahaan berbeda dengan pembayaran
kontan maka permintaan uang kas semakin besar.
3.
Kurva Permintaan Uang Menurut Motif Transaksi
Banyak sedikitnya permintaan uang
untuk transaksi ditentukan oleh pendapatan. Semakin tinggi pendapatan, semakin
banyak uang yang diperlukan untuk transaksi. Hal ini dapat digambarkan dalam
kurva berikut.
Pada saat pendapatan sebesar Y0,
permintaan uang untuk transaksi sebanyak M0. Dan pada saat pendapatan naik
menjadi Y1, permintaan uang untuk transaksi sebanyak M1.
4.
Kurva Permintaan Uang Menurut Motif Berjaga-jaga
Banyak sedikitnya permintaan uang
untuk berjaga-jaga juga ditentukan oleh pendapatan. Semakin tinggi pendapatan,
semakin banyak uang yang diperlukan untuk berjaga-jaga. Hal ini digambarkan
dalam kurva berikut.
Dari
Gambar 11.2 tampak bahwa saat pendapatan sebesar Y0 permintaan uang untuk
berjaga-jaga sebanyak M0. Ketika pendapatan naik menjadi Y1 permintaan uang
untuk berjaga-jaga juga naik sebanyak M1.
5.
Penawaran Uang
Penawaran
uang adalah jumlah uang yang ada dan beredar dalam kegiatan perekonomian.
Kebijakan moneter bertujuan untuk mengatur penawaran uang atau dengan kata lain
mengatur jumlah uang yang beredar. Oleh sebab itu, boleh dikatakan bahwa
penawaran uang merupakan tugas pemerintah melalui bank Indonesia.
Penawaran
uang dinyatakan dalam rumus:
L = M1 + M2 + M3
Keterangan:
L = Penawaran uang
M1 = Uang logam + uang kartal
M2 = M1 + tabungan yang tidak bisa
dicairkan dengan cek + deposito jangka pendek
M3 = M2 + deposito jangka panjang
a. M1
(Uang Kartal + Uang Giral) yaitu uang beredar dalam arti sempit
Uang
kartal atau uang tunai merupakan uang yang biasa anda gunakan setiap hari untuk
membeli barang dan jasa. Uang kartal terdiri atas uang logam dan uang kertas.
Tahukah Anda siapa yang menerbitkan uang kartal tersebut? Ambillah satu keping
uang dan perhatikanlah. Anda akan menemukan tulisan Bank Indonesia di salah
satu permukaan uang. Uang kartal diterbitkan oleh bank sentral, yang dalam hal
ini adalah Bank Indonesia.
Uang
giral adalah alat pembayaran berupa surat-surat berharga yang dikeluarkan oleh
bank umum. Contoh uang giral adalah cek dan bilyet giro. Cek merupakan surat
perintah dari pemilik rekening di bank untuk membayar sejumlah uang kepada
pihak lain. Sedangkan bilyet giro adalah surat perintah dari nasabah kepada
bank untuk memindahbukukan sejumlah uang kepada pihak lain.
b. M2
(M1 + Uang Kuasi) yaitu uang beredar dalam arti luas
Anda
telah mengetahui jenis-jenis uang apa saja yang tergolong dalam M1. Definisi
tentang uang yang lebih luas sering disebutkan sebagai M2. M2 diperoleh dengan
menjumlahkan M1 (uang kartal dan uang giral) dengan ”uang kuasi”. Uang kuasi
juga disebut ”near money” atau ”uang dekat”, yaitu bentuk kekayaan finansialyang
dapat segera diuangkan. Meskipun secara langsung ia tidak berfungsi sebagai
media tukar atau alat pembayaran, tetapi dapat diubah dengan cepat menjadi uang
kartal maupun uang giral. Contoh uang kuasi adalah deposito berjangka pendek
(jatuh temponya kurang dari 1 tahun) dan rekening simpanan/tabungan di bank
umum.
c. M3
(M2 + Deposito Berjangka Panjang)
M3
merupakan penggabungan dari uang kartal, uang giral, uang kuasi, dan deposito
berjangka panjang (lebih dari satu tahun). Apabila perekonomian suatu negara semakin
maju, porsi penggunaan uang kartal (kertas dan logam) semakin sedikit,
digantikan uang giral dan uang kuasi.
6. Kurva
Penawaran Uang
Banyak
sedikitnya penawaran uang atau jumlah uang yang beredar ditentukan oleh
pemerintah melalui bank sentral yang jumlahnya tetap dalam jangka waktu
tertentu. Oleh karena itu kurva penawaran uang merupakan kurva inelastis
sempurna yang yang berbentuk garis tegak lurus. Perubahan dalam penawaran uang
ditunjukan oleh pergerakan – pergerakan kurva ke kiri menunjukan penawaran uang
yang berkurang.
Perhatikan kurva
penawaran berikut :
Pergerakan
kurva penawaran uang dari MS0 ke MS2 menunjukan bertambahnya penawaran Uang.
Sebaliknya, pergerakan kurva penawaran uang dari MS0 ke MS1 menunjukan
berkurangnya penawaran uang.
7. Faktor-Faktor
yang Memengaruhi Besar Kecilnya Penawaran Uang
Pada
dasarnya, jumlah uang yang beredar dalam suatu perekonomian ditetapkan oleh
bank sentral melalui pengaturan kredit perbankan. Perkembangan jumlah uang yang
beredar mencerminkan perkembangan ekonomi. Apabila perekonomian tumbuh dan
berkembang, jumlah uang yang beredar juga berubah termasuk komposisinya.
Beberapa faktor yang memengaruhi penawaran uang, di antaranya:
a. Tingkat
Bunga
Tingkat bunga merupakan faktor utama yang
menentukan jumlah uang beredar. Ketika tingkat bunga tinggi, permintaan uang
kas akan turun karena masyarakat menganggap jika uang disimpan (tidak
dibelanjakan) akan lebih menguntungkan. Akibatnya, permintaan terhadap barang
dan jasa pun mengalami penurunan serta kegiatan perekonomian menjadi lesu. Oleh
karena itu, Bank Indonesia akan menambah jumlah uang beredar melalui kebijakan
moneter (menurunkan suku bunga SBI).
b. Tingkat
Inflasi atau Deflasi
Pada kondisi inflasi, bank sentral akan
cenderung mengurangi penawaran uang. Tujuannya adalah untuk mengurangi atau
meredam agar inflasi tidak semakin memburuk. Deflasi pun membawa dampak negatif
bagi perekonomian. Karena penurunan harga secara terus-menerus akan melemahkan
gairah berusaha dan berinvestasi.
c. Pendapatan
Apabila pendapatan masyarakat semakin
tinggi, semakin besar pula jumlah uang yang beredar. Sebaliknya pendapatan
masyarakat yang rendah akan memengaruhi pendapatan nasional juga ikut rendah,
sehingga jumlah uang yang beredar menjadi kecil. Dengan demikian tidak perlu
memperbanyak jumlah uang yang beredar, dengan tujuan menggairahkan dunia
perbankan dan dunia usaha.
d. Nilai
Tukar Rupiah
Pemerintah akan menurunkan jumlah rupiah
yang beredar apabila nilai tukar rupiah menurun. Dengan demikian, sesuai hukum
keseimbangan permintaan dan penawaran, tingkat bunga akan naik sehingga rupiah
juga ikut naik.
e. Fasilitas
Kredit
Adanya fasilitas kredit dapat memengaruhi
jumlah uang yang beredar di pasar. Bila masyarakat suka akan penggunaan kredit,
dengan sendirinya penggunaan uang tunai akan berkurang, sehingga jumlah uang
yang beredar di masyarakat menjadi sedikit.
f. Jumlah
penduduk
Semakin banyak jumlah penduduk, semakin
banyak dan semakin cepat uang beredar.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Dalam kajian mengenai teori
permintaan uang, ada beberapa golongan yang berpendapat. Pertama golongan kaum
Klasik, golongan ini menganggap bahwa uang tidak memiliki pengaruh terhadap
sektor riil, suku bunga, kesempatan kerja dan pendapatan nasional. Uang hanya
berpengaruh terhadap harga barang. Bertambahnya uang beredar akan mengakibatkan
kenaikan harga saja, sedangkan jumlah output yang dihasilkan tidak berubah.
Teori permintaan uang Klasik dikenal dengan teori kuantitas uang yang
dirumuskan oleh Irving Fisher.
Dari beberapa teori permintaan uang
di atas, Ada beberapa hal yang mempengaruhi permintaan uang diantaranya :
-
Pendapatan
riil. Semakin tinggi pendapatan seseorang, permintaan akan uang akan semakin
besar. Hal ini karena konsumsi dan tabungan akan bertambah seiring dengan
meningkatnya pendapatan.
-
Tingkat suku
bunga. Semakin tinggi suku bunga, permintan uang untuk motif spekulasi akan
berkurang. Tingginya suku bunga akan membuat biaya pinjaman uang untuk
berspekulasi bertambah mahal. Selain itu, jika tingkat suku bunga tinggi, orang
akan lebih baik menabung di bank dengan jaminan suku bunga yang ada daripada
berspekulasi.
-
Tingkat
harga umum. Semakin tinggi tingkat harga umum, permintaan akan uang akan
semakin bertambah. Hal ini karena harga barang/jasa bertambah mahal, sehingga
dibutuhkan lebih banyak uang untuk membelinya.
-
Pengeluaran
konsumen. Misalnya saja pengeluaran konsumen pada bulan-bulan menjelang Natal,
puasa, atau Hari Raya lainnya akan bertambah. Akibatnya, permintaan uang juga
akan bertambah.
Peranan uang
dalam perekonomian antara lain dapat meningkatkan efisiensi baik bagi produsen,
konsumen dan kegiatan ekonomi pada umumnya. Uang yang beredar pada masyarakat
yaitu uang kartal, uang giral, dan uang kuasi. Dalam perkembangannya, jumlah
uang yang beredar yang ada di Indonesia tidak tertutup kemungkinan untuk
mengalami kenaikan atau penurunan jumlah uang beredar. Gejala bertambahnya
jumlah uang beredar merupakan fenomena ekonomi, karena berkaitan dengan fungsi
uang sebagai alat tukar, yang semakin dibutuhkan pada saat perekonomian semakin
berkembang. Ekonomi yang tumbuh dan berkembang mempunyai konsekuensi
meningkatkan transaksi, yang membutuhkan uang guna mempermudah proses
pembayaran.
Dalam
pembahasan topic uang, tingkat suku bunga, dan pendapatan nasional, dapat
dilihat dengan jelas keterkaitan masing-masing komponen tersebut dalam
mempengaruhi pertumbuhan ekonomi disuatu Negara. Jadi menurut teori preferensi
likuiditas, jika tingkat pendapatan naik, maka tingkat bunga juga naik.
Pendapatan yang naik, akan menaikkan permintaan uang dan kemudian menaikkan
tingkat bunga keseimbangan.
B. SARAN
Demikian makalah yang
kami buat, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca.Apabila ada saran dan kritik
yang ingin di sampaikan, silahkan sampaikan kepada kami.
DAFTAR
PUSTAKA



No comments:
Post a Comment